Artika Sari Devi, mantan Puteri Indonesia 2004, benar-benar menikmati peran barunya sebagai Ibu dari Sarah Abiela Ibrahim yang kini berusia 4 bulan.
Salah satu momen yang paling dihayatinya sebagai ibu muda adalah menyusui Abiela. “Cara Abiela menatap saya saat ia mereguk ASI memperkuat ikatan yang sulit dilukiskan. Bukan hanya itu, nutrisi lengkap ASI membuatnya tumbuh, berkembang, bertambah IQ, sekaligus melindunginya,” kata wakil Indonesia di ajang pemilihan Miss Universe 2005 yang biasa dipanggil Tika tersebut.
“Bisa jadi karena oksitoksin atau hormon kasih sayang deras mengalir dalam tubuh saya, menyusui benar-benar membuat nyaman dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri saya sebagai ibu,” imbuhnya.
Lulusan S2 Hukum dari Universitas Gajah Mada ini mempercayai keunggulan ASI setelah proses pembelajaran yang cukup lama. Bersama suaminya, Ibrahim Imran, musisi yang lebih dikenal dengan nama Baim, Tika mencari informasi dari internet, buku, berdialog dengan anggota keluarga lain, bahkan ikut pelatihan konseling menyusui 40 jam yang dilaksanakan oleh Sentra Laktasi Indonesia.
Tak ayal, Tika sekarang fasih menjawab pertanyaan seputar ASI. “Bila orang beranggapan menyusui mengubah bentuk payudara dan membuatnya kendur, itu tidak benar,” katanya. Salah satu keuntungan dari menyusui bagi perempuan adalah berat badan turun cepat, kata Tika yang bobotnya naik hingga 63 kg selama kehamilan dan kini berat badannya turun hingga 51 kg selama menyusui.
Menjadi ibu muda adalah perjuangan besar bagi Tika. Selama hamil tensinya sempat tinggi hingga muncul kekhawatiran ia harus melakukan operasi Caesar. Belum lagi setelah melahirkan, kulit Abiela berubah menjadi kuning sehingga ia harus menjalani terapi sinar biru. Demi putrinya, ia pun rela tidur dalam ruang terapi tanpa busana, dengan menggunakan pelindung mata sambil mendekap bayinya selama 24 jam.
Tak cukup sampai di situ, Tika bertekad melakukan ASI eksklusif hingga enam bulan dan terus menyusui hingga dua tahun dengan memberikan makanan pendamping ASI.
Dr Utami Roesli, ketua Sentra Laktasi Indonesia, salah satu pembimbing Tika, mengatakan bahwa memang sangat mudah bagi ibu-ibu muda untuk memberikan susu formula karena alasan tidak bisa menyusui dan lebih praktis untuk memberikan susu formula.
Ada juga yang percaya bahwa ASI hanya tepat untuk kalangan bawah yang tidak punya uang untuk membeli susu formula yang jauh lebih unggul karena ditambah dengan zat tambahan yang dapat membantu anak-anak menjadi jenius.
“Padahal, bayi yang diberi susu formula lebih mudah terkena diare akibat air, botol, dan dot yang tidak steril,” kata Dr Utami sambil menambahkan bahwa anak lebih mudah alergi dan cenderung kelebihan berat badan jika diberi susu formula. Selain itu, wanita yang tidak menyusui berisiko mengalami anemia, kanker ovarium, dan kanker payudara.
UNICEF, badan PBB untuk anak-anak, kini bekerjasama dengan berbagai organisasi seperti Sentra Laktasi Indonesia, Departemen Kesehatan untuk menyusun kebijakan, melakukan pelatihan konseling menyusui dan makanan pendamping ASI serta mendorong diberlakukannya kode etik pemasaran susu dan makanan pengganti ASI.
“ASI ekslusif selama 6 bulan pertama dapat menyelamatkan lebih dari 30,000 bayi di Indonesia setiap tahun,” kata Sonia Blaney, Kepala Bagian Gizi di UNICEF Indonesia. Menyusui 1 jam pertama setelah dilahirkan dapat menyelamatkan 30,000 bayi lagi di Indonesia setiap tahunnya, tambahnya.
“Menyusui adalah sesuatu hal yang indah dan sangat alamiah. Wanita bisa tetap cantik, bentuk dan berat badan tetap ideal selama menyusui,” pesan Tika.
(read users comments or add a reply)