Reborn

Serve to Care

Serve to Care

Posted on 09 Dec 2011 at 9:13am

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Desember, sebentar lagi kita akan menutup tahun 2011. Di tahun ini banyak pengalaman menggembirakan dan membanggakan yang mewarnai perjalanan bisnis Miracle Aesthetic Clinic Group. Salah satu di antaranya adalah keberhasilan Miracle Aesthetic Clinic meraih penghargaan “Surabaya Service Excellence Award 2011” untuk kategori Beauty Clinic, dengan predikat Best Champion 2011 dari Mark Plus Inc. Prestasi ini tentunya semakin memacu semangat dan keinginan kami untuk selalu memberikan layanan yang terbaik kepada para customer.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa apa yang diinginkan oleh pelanggan saat ini lebih dari sekedar ‘customer service’, tidak cukup lagi kualitas layanan yang diberikan karena sekadar melaksanakan kewajiban, pelanggan mengharapkan lebih diperhatikan, lebih dipahami, lebih akrab, dan lebih ditempatkan sebagaimana layaknya seorang teman.

Mengawali tahun 2012, dengan spirit ‘Serve to Care’, setiap staf Miracle Aesthetic Clinic siap memberikan layanan yang terbaiknya. Berbagai pelatihan telah dilaksanakan di tahun 2011 ini. Setiap staf dibekali pengetahuan, ketrampilan dan semangat untuk melayani pelanggan dengan penuh empati, penuh kepedulian, melayani dengan hati (Serve with Love), dan memiliki keinginan untuk memberikan lebih dari yang diharapkan customer (Go for Extra Miles), sehingga diharapkan dengan terbentuknya pola pikir dan perilaku yang positif setiap staf Miracle akan mampu melayani dengan spirit ‘Serve to Care’ yang dapat dirasakan secara nyata.

Di Miracle Magz edisi Desember ini, kami menyajikan informasi perawatan terbaru, yaitu Miracle Duo Peel Rejuve Facial, Miracle Duo Cell W-R Mask, dan Miracle Biocell Transdermal Therapy, pilihan perawatan yang tepat untuk peremajaan kulit. Di rubrik reborn, sosok cantik Happy Salma kami pilih sebagai ikon karena karakter pribadinya yang kuat, berbakat dalam bidang seni maupun bisnis, sedangkan Priyo Oktaviano merupakan sosok multi ethnic dan multi talent dengan hasil karya yang menjadi ciri khasnya “Ethnic Casual.”

Kami seluruh keluarga besar Miracle Aesthetic Clinic mengucapkan “Selamat merayakan Natal & Tahun Baru 2012”.

Stay blessed…
Stay young, healthy, and amazing…

dr Lanny Juniarti
President Director

Happy Salma - Menikmati Hidup Lewat Seni

Happy Salma – Menikmati Hidup Lewat Seni

Posted on 09 Dec 2011 at 8:47am


Mengawali kariernya lewat dunia model, yang kemudian melebarkan sayapnya menjadi bintang sinetron juga layar lebar. Sosok yang satu ini sudah lama malang melintang di dunia entertainment.

Wajah cantiknya sudah tidak asing lagi, bahkan dia juga ramah pada siapa saja, tidak heran bila banyak penggemar mengaguminya. Artis yang kariernya menanjak semenjak mengikuti pemilihan model majalah remaja ini, mengisahkan jika awal terjun ke dunia keartisan bukan sebagai model dan artis sinetron tapi nge-band. “Jaman SMA, saya suka nge-band, jadi vokalis. Nah, kebetulan kakak kenal dengan Alm. Franky Sahilatua, diajaklah bikin album rekaman. Album sudah jadi, namun waktu itu ada masalah di distribusinya,” kata Happy membuka perbincangan.

Konsisten Di Dunia Seni
Dikenal sebagai model, pemain fim, sinetron, dan presenter. Ternyata Happy Salma juga gemar menulis, bahkan sudah meluncurkan novel “Hanya Salju dan Pisau Batu.” Soal hobby menulisnya, ternyata sudah dipupuk sejak kecil. Happy mengaku suka sekali menulis, mulai menulis buku harian sampai menulis cerpen. Bahkan sejak duduk di bangku SMP, ia rajin mengirim cerpen ke majalah. Tentang menulis, ternyata ia bisa dilakukan kapan saja. Bahkan sambil menunggu giliran syuting, ia menyempatkan untuk menulis. Hingga akhirnya bertemu penerbit, lalu tulisannya dipublikasikan dalam bentuk kumpulan cerpen.

“Saya suka tulisan dengan gaya sastra Indonesia, dan saya bertahan dengan gaya itu. Sebetulnya kalau cinta sastra itu, kita juga belajar bagaimana berempati, belajar budaya, dan belajar karakter banyak orang. Itu juga yang memotivasi saya pertama kalinya untuk tampil di panggung atau teater. Jadi bisa dibilang saya suka teater berawal dari kecintaan saya terhadap sastra, termasuk buku-buku sastra Indonesia seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer,” urainya.

Kecintaan Happy Salma terhadap dunia seni, ternyata tidak bisa lepas dari figur sang ayah. Darah seni juga mengalir kepada kakak-kakaknya. Mereka ada yang terjun menjadi penari dan bermusik. “Orang tua dan keluarga banyak memotivasi dan mengapresiasi apa yang saya lakukan,” kata Happy yang baru saja terlibat dalam pementasan Opera Diponegoro.

Pada pertunjukan opera yang disutradarai oleh Sardono W. Kusumo ini, melibatkan puluhan penari profesional yang di-casting dari tiap daerah. Konsep opera mengadopsi wayang beber dimana layar di depan dan para pemain bermain di belakangnya. “Saya sendiri berperan sebagai sosok yang bermonolog tentang kemabukan (emosi dalam diri). Sosok ini dimunculkan ketika suasana ketakutan muncul saat penangkapan Diponegoro,” jelas Happy yang diajak bermain oleh Ratna Riantiarno.

Menikah pada 3 Oktober 2010, istri dari Tjokorda Bagus Dwi Santana, mengaku tidak ada yang berubah setelah menikah. Apalagi sang suami sangat memahami profesinya. “Saya suka seni, jadi tetap akan berkesenian. Jadi tidak akan ada yang berubah. Hanya soal waktu mungkin. Sekarang saya lebih memilih dan menata waktu kerja. Jadi hanya akan melakukan sesuatu, yang menurut saya menarik,” jawabnya diplomatis.

Belum Tertarik Politik
Ditengah maraknya artis yang terjun ke dunia politik, figur Happy Salma juga sempat ramai diperbincangkan sebagai ikon politik Sukabumi yang merupakan kota kelahirannya. Artis yang meraih penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik Festival Film Indonesia di Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita pada tahun 2010, langsung menjawab jika dirinya tidak tertarik terjun ke dunia politik. “Saya tidak begitu tertarik terlibat politik praktis. Tapi, saya percaya dengan pekerjaan masing-masing bisa juga membawa perubahan. Intinya berpolitik itu untuk membawa perubahan. Tapi, perubahan itu kan tidak harus lewat politik. Melalui karya seni juga bisa membawa perubahan,” ujarnya tegas.

Pilih Miracle

Memanjakan diri termasuk hal yang paling menyenangkan sekaligus relaksasi di tengah aktivitas yang padat. Happy Salma pun menyempatkan waktu untuk memanjakan diri di Miracle Aesthetic Clinic cabang Kemang Jakarta dan Kuta Bali. Menurut artis yang yang pernah bermain film Gie ini, suasana Miracle Aesthetic Clinic sangat nyaman. Pelayanannya memuaskan dan stafnya ramah, bahkan ia merasa diperlakukan seperti keluarga. “Saya suka diingatkan oleh staf Miracle untuk facial atau treatment lagi. Menurut saya itu bagus, kadang karena sibuk, kita lupa kapan saatnya melakukan perawatan,” katanya memuji.

Perawatan yang paling disukai adalah facial, terutama Miracle Intensive Oxygen Facial, karena menggunakan serum yang sesuai dengan problem kulit wajah serta kandungan oksigen murni yang disemprotkan ke wajah. “Dulu saya agak cuek, karena merasa kulit saya sehat. Pernah saat saya kecapekan karena jadwal kegiatan yang padat, saya jerawatan. Tapi setelah melakukan perawatan dan memperbaiki pola makan serta gaya hidup, kulit kembali sehat,” pungkas Happy yang selalu membawa lipgloss sebagai make up andalan, sambil melanjutkan sesi pemotretan siang itu.

dr Imelda Tjandra - Mengikuti Kata Hati

dr Imelda Tjandra – Mengikuti Kata Hati

Posted on 09 Dec 2011 at 7:55am


Dikenal sebagai figur dokter yang sabar, tenang, dan selalu memperhatikan keluhan-keluhan customer. Dokter cantik ini merasa bangga bisa bergabung dengan Miracle Aesthetic Clinic cabang Malang sejak tahun 2004. Anak kedua dari lima bersaudara yang memiliki hobi menyanyi dan main piano ini menuturkan jika sejak kecil sang ayah sangat mengharapkan dirinya menjadi dokter. Karena di mata sang ayah, dokter adalah pekerjaan yang mulia. Setelah menempuh pendidikan dan menjadi dokter, ia mengaku sangat mensyukuri pilihannya ini. “Saya bangga dan bahagia karena menjadi seorang dokter, saya bisa mendapatkan kesempatan untuk menolong sesama,” tutur Imelda yang sangat mengidolakan sang ayah.

Bahagia Membantu Sesama
Ada cerita menarik mengenai latar belakang ketertarikan dirinya bergabung dengan Miracle. “Awalnya karena alasan keluarga. Saat itu saya baru selesai menjalankan tugas PTT dan pindah ke Malang, kebetulan ikut suami yang sedang menempuh pendidikan. Saya butuh pekerjaan dokter tanpa jaga malam, demi anak kami yang saat itu masih umur satu tahun. Tapi setelah bergabung dengan Miracle saya menyukai bidang ini, karena sangat menyenangkan karena bisa membuat orang lain menjadi lebih percaya diri, bahagia, dan kualitas hidupnya semakin lebih baik,”tuturnya.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik bergabung dengan Miracle, karena ia melihat Miracle berbeda dengan klinik yang lain. “Miracle adalah klinik estetika yang selalu update dalam treatment, knowlegde serta skill dari dokter dan stafnya yang mumpuni. Selain itu, di sini selalu memberikan solusi dan edukasi buat customer-nya. Sehingga setiap customer yang datang ke sini mendapat solusi dan pengalaman yang unik dan personal,” jelas Imelda yang memilih daerah pantai sebagai tempat berlibur favoritnya.

Menghadirkan Rasa Nyaman
Soal perawatan ternyata tidak selalu didominasi kaum hawa, karena kaum adam juga sadar dengan perawatan estetika. Hal ini sangat wajar, karena di jaman sekarang ini baik pria ataupun wanita menginginkan mempunyai kulit yang sehat dan bersih, sehingga dengan bertambahnya waktu, peminat dari kaum pria di kota Malang juga semakin meningkat. “Para customer kami juga terlihat antusias untuk mengetahui tren perawatan kecantikan terkini. Dari waktu ke waktu jumlah customer di cabang Malang semakin bertambah, baik pria maupun wanita. Antusiasme mereka untuk melakukan kombinasi treatment semakin meningkat untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” jelasnya.

Dengan kondisi kota Malang yang berbeda dengan kota lainnya di Indonesia, maka Imelda menyarankan pemakaian moisturizer. “Karena di sini cuaca lebih dingin dibandingkan kota lain, maka kulit lebih mudah mengalami dehidrasi dan kering. Untuk itu disarankan menggunakan TDF B5 Hydrating Essence yang akan mengembalikan kondisi kulit melalui pemakaian serum yang mengandung sodium hyaluronate dengan konsentrasi tinggi yang mampu memberikan kelembaban kulit secara maksimal,” jelas Imelda.

Agar perawatan kecantikan berhasil maka ada beberapa tips khusus yang harus dilakukan. Salah satunya dengan selalu mengikuti dan melaksanakan anjuran aesthetic consultant secara rutin dan teratur memakai produk-produk perawatan di rumah, serta secara teratur kontrol dan menjalani prosedur perawatan yang disarankan.

Sebagai aesthetic consultant, Imelda berusaha menjadi teman bagi customer-nya sehingga dapat memberikan rasa nyaman pada pasien yang mungkin harus melalui proses perawatan yang lama dan serius.

“Cara penanganan customer seperti itu cukup mudah, harus ditangani dengan berpikir positif dan bersabar,” katanya. Komunikasi juga menjadi faktor penting untuk memberikan pengetahuan bagi customer yang masih awam. Setelah itu, barulah diberikan solusi terbaik dalam mengatasi masalahnya.

Semangat Memperluas Ilmu
Harapan yang ingin dilakukan Imelda bersama Miracle, yaitu bekerja dengan smart, lebih profesional, dan meningkatkan kompetensi sehingga lebih memajukan klinik Miracle. “Lebih ramah dan lebih sabar dalam melayani dan menangani customer di Miracle sehingga customer merasa nyaman dan senang melakukan perawatan di Miracle. Kalau mereka puas, maka dengan senang hati akan merekomendasikan kepada orang lain untuk melakukan perawatan di Miracle,” tutur Imelda ramah.

15 Year of Miraculous Moments

15 Year of Miraculous Moments

Posted on 16 Sep 2011 at 8:45am

Di ulang tahun Miracle yang ke 15 ini, sungguh terasa sebagai momentum yang sangat istimewa. Begitu membanggakan sekaligus mengharukan, di tahun 2011 ini Miracle Aesthetic Clinic telah menunjukkan eksistensinya dan semakin berkembang menjadi merek nasional dengan dibukanya cabang ke-16 pada bulan Mei yang lalu di Taman Anggrek Mall, Jakarta. Terlebih lagi di mata pelanggan, Miracle Aesthetic Clinic dipersepsi sebagai merek yang memiliki reputasi dan berkelas, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh MarkPlus (MarkPlus Insight). Hasil survei ini tentu merupakan kado yang sangat luar biasa, karena bagi kami kepercayaan dan kepuasan pelanggan menjadi prioritas penting dalam pelayanan kami.

Lima belas tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk menjalani setiap fase perkembangan Miracle mulai dari satu klinik di Surabaya kemudian menjadi 16 cabang yang tersebar di kotakota besar di Indonesia. Pengalaman dan proses belajar yang sangat berarti bagi kematangan sebuah bisnis yang diharapkan akan terus berkembang tidak saja dalam nilai ekonomis, melainkan dapat memberikan peningkatan kualitas hidup bagi para stake holder.

Miracle melayani para pelanggan, tidak hanya dilandasi adanya transaksi bisnis antara penyedia jasa dan pelanggan, lebih dari itu bagi kami pelanggan adalah mitra kami. Kami mengupayakan agar setiap moment of truth yang terjadi dalam proses interaksi dengan pelanggan, akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, karena kami memiliki semangat pelayanan yang dilandasi oleh nilai-nilai yang kami percaya akan memberikan kepuasan bagi pelanggan.

“Try not to become a man of success but rather try to become a man of value” tidak hanya menjadi kutipan yang indah untuk dibaca, tetapi sungguhsungguh kami terapkan di dalam menjalankan kegiatan operasional klinik sehari-hari. Berbagai spirit pelayanan kami jadikan tema untuk menyemangati para staf seperti : Yes, We Can; Step Up; Do It 100%; Go for Extra Miles; Serve With Love, dan The Spirit of Excellence. Keberhasilan pelayanan bagi kami tidak cukup hanya sampai pelanggan puas terhadap solusi yang kami berikan, melainkan setiap pelanggan harus dapat merasakan bahwa pengalaman yang kami berikan adalah unik dan personal, yang tak akan terlupakan.

Kami menyadari bahwa pencapaian yang kami raih saat ini, tidak terlepas dari peran serta para pelanggan, keluarga besar Miracle dan juga masyarakat yang mengapresiasi keberadaan Miracle Aesthetic Clinic di Indonesia. Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami menjadi pilihan utama untuk mendapatkan solusi dan servis di bidang estetika medik, kami berkomitmen untuk selalu memberikan yang terbaik.

Berbagi kebahagiaan di ulang tahun ke 15, Miracle Magz akan membagi liputan kemeriahan ulang tahun Miracle Aesthetic Clinic di berbagai cabang. Ada juga kisah perjalanan karier aktris multi talent Cathy Sharon, serta cerita di balik koleksi-koleksi romantis rumah mode BENTEN. Dapatkan juga inspirasi liburan tak terlupakan di Manado dan pastinya informasi tentang treatment terbaru yang siap membuat Anda “feel and look great”.

Please enjoy…

dr Lanny Juniarti
President Director

Cathy Sharon, Mengejar Tantangan

Cathy Sharon, Mengejar Tantangan

Posted on 16 Sep 2011 at 8:42am

Perjalanan karier artis multi talent yang satu ini memang akrab dengan dunia kosmopolit. Wajah ayu, ditambah gayanya yang luwes baik di depan kamera maupun saat berbincang, membuat karier Cathy Sharon Gasnier terus mengalir di dunia entertainment.

Di sela-sela pemotretan untuk Miracle Magz, Cathy yang hari itu terlihat fresh mengenakan gaun berwarna biru, bercerita blak-blakan soal karier yang dilakoninya saat ini.

Memiliki tubuh semampai dengan kulit bersih dan paras ayu menjadi modal baginya untuk memasuki dunia model saat masih duduk di bangku SMA. Masuk bangku kuliah, Lulusan Business School di Australia ini makin serius menjadi model dan sempat bergabung dengan Look Modelling Agency, agensi model papan atas dunia.

Debutnya di layar kaca dimulai saat ia memenangkan pemilihan kontes video jockey (VJ) di sebuah stasiun televisi asal Amerika yang membuka cabang di Indonesia. Sederet penyanyi papan atas dunia mulai dari Saosin hingga Linkin Park pernah diwawancarai perempuan kelahiran 8 Oktober ini.

Setelah lima tahun menjadi VJ, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan karier tersebut dan menyelami dunia film. Satu demi satu judul film dan sinetron dibintangi perempuan yang melewatkan masa kecilnya di Bali ini. Salah satunya yang terbaru adalah “The Perfect House”. Di film ber-genre thriller tersebut, sulung dari tiga bersaudara ini merasa kemampuan aktingnya benar-benar diuji.

“Banyak adegan-adegan yang butuh kekuatan fisik. Ada satu scene yang menuntut saya untuk seharian shooting dengan tubuh berlumuran lumpur, ada juga yang mengharuskan saya acting berlama-lama di lantai, sampai rasanya seluruh badan bau kain pel.”

Bukan hanya itu, yang membuat film ini begitu berkesan. Saat pemutaran perdana The Perfect House di Pifan Festival Korea, juga ada cerita tak terlupakan. “Waktu itu ada salah paham dengan panitia festival, ditambah saya lupa bawa kartu identitas. Sampai akhirnya, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya nonton film sendiri dan harus bayar,” ujarnya sembari tertawa.

Sambutan penonton Korea yang begitu antusias dengan film ini menjadi hal yang membanggakan untuk Cathy. “Waktu sesi tanya jawab, penonton di sana sangat tertarik tanya berbagai hal soal The Perfect House, dan pada intinya mereka sangat suka,” ucap perempuan yang berperan sebagai Julie di film yang disutradarai Affandi Abdul Rachman tersebut.

Pertama di Indonesia
Menurutnya, film ini berbeda dengan film thriller lain yang pernah tayang di tanah air.”Dari warna cerita, alur, angle, semuanya berbeda. Rasanya belum ada di Indonesia film psycho thriller yang cerita dan ending-nya seperti ini. Tak hanya pemain yang diperas kemampuan acting-nya, penonton pun diajak berpikir untuk mencerna ceritanya.”

Sebelum di putar di Indonesia sekitar bulan Oktober nanti, rencananya The Perfect House akan mengikuti beberapa festival film lain di luar negeri, termasuk di Australia yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Jiwanya yang selalu haus akan petualangan, membuat penggemar sushi tersebut tak pernah berhenti mencari tantangan. “Setelah selesai satu film pasti ingin mengejar tantangan lain lewat peran yang lebih mengasah kemampuan acting. Nggak terbayang rasanya terjebak dalam satu peran di sebuah panggung sandiwara. Pasti sangat membosankan.”

Kabur ke Miracle
Sekalipun selalu berkejaran dengan jadwalnya yang padat, artis yang juga customer Miracle Aesthetic Clinic ini selalu menyempatkan diri untuk melakukan treatment. “Pernah ada kejadian lucu. Waktu syuting bareng Ridho Rhoma di Kemang, saya kabur ke sini (Miracle cabang Kemang) gara-gara jerawatan. Saya minta disuntik jerawat dulu, terus baru balik syuting lagi,” ungkapnya tentang satu cerita tak terlupakan di Miracle.

Cathy mengaku, Julie Estelle, adiknya yang pertama kali menjadi customer Miracle. Baru setelah itu ia tertarik mencoba dan ikut ketagihan juga. “Treatment pertama saya Diamond Peel dan sejak pertama kali coba wajah jadi lebih cerah, lebih sehat, dan jerawat juga berkurang,” terang Cathy tentang treatment favoritnya di Miracle. “Berkat rajin treatment di Miracle, banyak yang bilang kalau saya awet muda.”

Suasana Miracle yang homy membuat ia bisa merasa benar-benar nyaman selama melakukan perawatan. “Yang paling saya suka di Miracle, dokter maupun beauty therapis-nya memberikan informasi secara detail treatment dan produk apa yang sesuai untuk mengatasi problem kulit kita. Jadi, kita merasa nyaman,” terangnya.

Sebelum akhirnya dokter meminta untuk tidak melakukan latihan terlalu berat hingga cidera di pundaknya sembuh, Cathy mengaku dia termasuk sportaholic. Setiap ada waktu luang selalu dilewatkan untuk pergi ke pusat kebugaran. Karena ia merasakan hanya dengan diimbangi dengan olahraga dan pola makan sehat treatment bisa lebih maksimal manfaatnya.

Bentuk Cinta
”Urusan makanan, selain memerhatikan porsi dan gizi, saya juga selalu mengusahakan mengolah bahan-bahan yang organik. Termasuk juga produk-produk seperti sabun, dan lain sebagainya. Saya pilih produk ramah lingkungan sebagai bentuk cinta saya terhadap diri dan lingkungan,” tuturnya bersemangat. ”Makanya saya sangat mendukung dan salut dengan Miracle yang ternyata juga peduli lingkungan dan ditunjukkan melalui program-programnya seperti Heart to Earth ataupun Ecobag. Menurut saya itu sangat brave and briliant,” imbuh penggemar lipgloss ini di akhir wawancara, sebelum akhirnya kembali melanjutkan sesi pemotretan.

dr James Surja Putra, SpKK. Kepuasan yang Tak Terlukiskan

dr James Surja Putra, SpKK. Kepuasan yang Tak Terlukiskan

Posted on 16 Sep 2011 at 7:15am

Tiga tahun bertugas di Rumah Sakit Umum, membuat dr James Surja Putra, SpKK merasa ingin berbuat lebih dari sekadar menyembuhkan pasien yang sakit. Keinginan untuk berbuat lebih inilah yang menyebabkan pengagum Jack Canfield ini menambah ilmunya dengan mengambil spesialisasi di bidang penyakit kulit dan kelamin.

Keputusan ini diambil karena anak ke 2 dari 4 bersaudara tersebut berpikir spesialisasi akan memungkinkan dirinya menggali lebih dalam kemampuannya. Dari sini kemudian ia mulai masuk ke dunia aesthetic medis yang menurutnya sangat menarik.

Tantangan seakan dilipat gandakan, tak hanya dari segi ilmu kedokteran saja, namun juga ada unsur artistik di dalamnya. Kepuasan yang tak terlukiskan pun dirasakan manakala ia berhasil memadukan beragam treatment untuk mempercantik seorang pasien.

Tak asal pilih
Walaupun Amerika Serikat masih didaulat menjadi trend setter klinik aestetik dunia, namun menurut Dokter yang gemar menyantap ice cream ini, perkembangan aesthetic treatment di Indonesia utamanya di Miracle sudah sangat maju dan bisa disetarakan dengan klinik terbaik di luar negeri.

“Miracle sendiri tak sekadar comot dengan riuhnya perkembangan aesthetic treatment di luar sana. Treatment maupun alat terkini yang dipilih selalu dipertimbangkan betul keamanannya dan dianalisis dengan seksama untuk memastikan hasilnya maksimal.”

Berbeda dengan yang lain
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang tersebut merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Miracle yang berhasil eksis selama 15 tahun, berkat konsistensinya dalam memberikan pelayanan yang terbaik. “Satu hal lagi yang menjadi kelebihan dari Miracle yang tidak dimiliki klinik lain adalah kerjasama tim yang selalu mengedepankan kemajuan klinik,” ungkapnya.

Hubungan harmonis antara dokter dan customer yang sangat dijaga di Miracle merupakan hal yang krusial. “Ini penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kasus-kasus treatment yang kebablasan yang kita dengar akhir-akhir ini,” imbuhnya.

Diakui dr James, tak jarang ia menghadapi customer yang menginginkan perubahan yang ekstrim. Terlebih dengan nama besar Miracle, pasien semakin yakin mereka bisa melakukan beragam transformasi dengan sempurna di sini. “Kalau sudah begini, kemampuan seorang dokter dalam menyeimbangkan permintaan mereka amat sangat diperlukan. Memberikan penjelasan terutama akan efek samping dari perawatan atau perubahan yang diinginkan harus dijelaskan secara terbuka. Sebagai dokter kita dituntut untuk memberikan yang terbaik, dari segi estetik maupun medis,” urainya.

Tiga pilar “treatment”
Pada pasiennya, pria kelahiran Magelang yang sudah lebih dari 6 tahun bergabung dengan Miracle ini selalu mengingatkan bahwa ada 3 pilar penting perawatan kecantikan yang harus dipahami, yaitu kliniknya, produk yang digunakan, dan dari hasil perawatan. “Edukasi pada pasien mengenai hal ini dan membuat mereka mau mengikuti proses yang dianjurkan oleh dokternya adalah hal yang sangat penting untuk mendapatkan perawatan yang maksimal,” tuturnya di akhir wawancara.

Ghea S. Panggabean "My Work, My Passion"

Ghea S. Panggabean "My Work, My Passion"

Posted on 11 May 2011 at 7:33am

Keinginan untuk bisa mandiri, tidak tergantung dengan siapapun menjadi motivasi yang membuat Ghea S. Panggabean memutuskan menjadi wanita karier. “Saya ingin mempraktikkan apa yang telah saya pelajari dan berkarya, sesuai dengan keahlian dan passion saya,” tuturnya.

Tentu saja keputusan ini memiliki konsekuensi yang sering kali menghadapkan Ghea pada pilihan antara keluarga dan karier. Dukungan dari keluarga yang begitu memahami dirinya menjadi penyemangat yang membuat perempuan Indo-Belanda ini mantap menapaki kariernya.

“Mereka senantiasa mendukung saya dan seringkali mengingatkan untuk menjaga kesehatan dengan baik, karena terkadang saya bekerja sampai lupa waktu. Keberadaan mereka di saat terbaik dan terburuk saya, serta menerima saya apa adanya membuat keluarga begitu penting untuk saya,” ungkapnya.

Itulah mengapa sesibuk apapun, Ghea selalu berusaha membina komunikasi dengan anak-anak dan suami tercinta. “Saya selalu berusaha makan pagi dan malam bersama keluarga. Itu telah menjadi kewajiban dan kebiasaan dalam keluarga saya, untuk senantiasa menjaga komunikasi,” urai perempuan yang tahun ini memasuki usia 56 tersebut.

Dilestarikan dan Diperjuangkan
Pengagum Hillary Clinton ini menyadari bahwa bila sekarang setiap perempuan Indonesia punya kesempatan dalam berbagai bidang setara dengan kaum pria, itu semua tak lepas dari perjuangan Raden Ajeng Kartini. “Emansipasi yang kini bisa kita nikmati bukanlah hasil kerja semalam, melainkan hasil jerih payah Ibu Kartini dalam memajukan dan mengangkat derajat kaum wanita di Indonesia yang patut dilestarikan dan terus diperjuangkan oleh kaum wanita serta generasi penerus.”

Rasa nasionalisme seorang Ghea tersebut nampaknya berbaur apik dengan fashion spirit dalam dirinya. Tak heran bila dalam setiap rancangan perempuan kelahiran Rotterdam, Belanda ini tak pernah berhenti menggali khasanah kekayaan budaya dan tekstil Indonesia untuk kemudian direpresentasikan dalam beragam gaya busana modern.

Karya-karya inilah yang melambungkan namanya baik di dalam maupun luar negeri sebagai desainer berbakat. “Fashion adalah sesuatu yang berarti modern, trendi, bagaimana caranya ingin menggali tradisi dan menerjemahkan ke fashion,” ujar wanita yang pernah menimba ilmu di Chelsea Academy of Fashion, London (1979) tersebut.

Menikmati Hidup
Sekalipun kesuksesan telah berada dalam genggamannya, bagi Ghea, sukses tak sekadar meraih prestasi dan menjadi yang terbaik, melainkan bagaimana ia bisa memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. “Inilah yang nantinya akan memberikan keseimbangan lahir dan batin ini dan membuat kita bisa bahagia serta menikmati hidup,” pungkas istri Baringin Panggabean ini.

Shinta W. Dhanuwardoyo "The Power of Family"

Shinta W. Dhanuwardoyo "The Power of Family"

Posted on 11 May 2011 at 7:14am

“Keluarga adalah fondasi bagi saya. Mereka adalah pendukung utama kesuksesan yang saya raih. Saya bangga pada keluarga saya dan saya selalu berusaha membuat mereka bangga pada diri saya,” tutur Shinta Witoyo Dhanuwardoyo.

Kekuatan dari keluarga inilah yang membuat Shinta sukses menekuni bisnis web developer yang dirintisnya 12 tahun lalu. Saat itu web developer masih menjadi bisnis yang jarang digeluti oleh perempuan. Masih banyak orang meragukan peluang mengeruk rupiah dari usaha ini, meski demikian Shinta memilih mengambil risiko dan merintis usaha Bubu.com bersama dua orang rekannya.

Minat menjadi pebisnis di bidang digital dan internet tersebut mulai muncul ketika ia mengambil master di Amerika. “Kalau ditanya mengapa memilih jalur tersebut, jawabannya karena itulah passion saya. Kadang tidak bisa dijelaskan dari mana passion itu muncul, yang lebih penting adalah ke mana passion itu akan membawa kita di masa depan.”

Usahanya yang saat ini sedang di puncak pun harus dibayar mahal dengan tersitanya waktu bersama keluarga. Bila banyak perempuan merasa gamang ketika berada di puncak karier karena dihadapkan pada dilema keluarga dan karier, tidak demikian dengan ibu dua orang putri ini. “Tidak ada masalah yang berarti sebenarnya. Asal kita bisa mengatur work-life balance, karier dan keluarga tetap bisa berjalan beriringan, bahkan bisa semakin menguatkan satu sama lain,” urai Presiden Direktur/ CEO Bubu Internet ini berbagi rahasia.

Mengalahkan Keraguan Diri
Menurut perempuan yang mengambil master di Fakultas Bisnis Administrasi Universitas Portland, Amerika Serikat tersebut, hambatan sering kali datang karena kebanyakan perempuan merasa kurang percaya diri kalau ia bisa sukses di karier, keluarga, pribadi, dan masyarakat sekaligus. “Padahal itu semua bisa dicapai asal kita bisa mengalahkan keraguan dari dalam diri, dan tentu saja akan lebih mudah bila pasangan mendukung secara total,” imbuhnya.

Untuk menjaga kehangatan ikatan dalam keluarga kecilnya, perempuan kelahiran Jakarta, 41 tahun silam tersebut memilih mengisi waktu luangnya dengan berbincang-bincang, ataupun bertukar cerita bersama suami dan putri-putrinya. ”Saat berkumpul dengan keluarga saya benar-benar berusaha “hadir” secara utuh bagi mereka tanpa distraksi dari luar atau dari diri saya sendiri.”

Bagi perempuan yang hobi mengoleksi batik dan kebaya ini, sukses dalam hidup tak semata-mata dari seberapa banyak kapital yang berhasil dikumpulkan, tetapi lebih pada keberhasilan menyeimbangkan antar pekerjaan dan keluarga. “Ini adalah parameter sukses bagi saya. Kedua putri saya juga bisa belajar dengan melihat bagaimana saya bekerja dan mengejar passion saya. Kebanggaan terbesar saya adalah bila mereka juga berani mengejar passion-nya,” harapnya.

dr Rizky Fitriyah "Inspirasi  Masa Kecil"

dr Rizky Fitriyah "Inspirasi Masa Kecil"

Posted on 11 May 2011 at 2:47am

“Saya terinspirasi dengan dokter saya di masa kecil yang merawat pasien-pasiennya dengan telaten dan sepenuh hati,” demikian tutur dr Rizky Fitriyah mengawali kisahnya tentang cita-cita di masa kecilnya yang mengantarkan pada karier yang digelutinya sekarang.

“Waktu itu sederhana saja, saya ingin membantu orang lain lewat apa yang saya bisa, seperti yang dokter saya lakukan,” tutur dokter yang kini bertugas di Miracle Kertajaya Indah, Surabaya tersebut sembari menikmati teh hijau minuman favoritnya.

Pembicaraan pun mengalir hangat, ibu dari 2 anak ini mengaku, menjadi dokter ternyata tak sekadar membuatnya bisa membantu orang, tapi di lain sisi juga memberi pelajaran berharga baginya tentang bagaimana memahami orang lain.

“Di Miracle saya dihadapkan dengan pasien yang memiliki ribuan kepribadian serta keinginan. Mencoba memahami setiap dari mereka adalah tantangan sekaligus pelajaran berharga buat saya,” ungkapnya bersemangat

Sekalipun tidak mudah, dorongan dari keluarga, terutama ibunda tercinta, membuat anak ke 3 dari 4 bersaudara ini tidak menyerah. “Dukungan keluarga sangat berarti. Ketenangan yang selalu mereka berikan merupakan support besar buat saya untuk bisa bekerja dengan baik.”

Saat menjadi dokter muda, dokter yang akrab disapa Rizky oleh pasiennya ini mulai tertarik mempelajari ilmu aesthetic. “Waktu itu saya sendiri punya masalah dengan jerawat yang bikin gemas. Akhirnya saya berpikir, andai bisa mengobati sendiri, pasti enak,” paparnya,

Tuntas dengan pendidikan dokternya, pengagum Hillary Clinton ini kemudian memulai kariernya di bidang medis. Sekitar tahun 2002 ia bergabung dengan Miracle Aesthetic Clinic hingga saat ini.

Tetap yang Terbaik
“Miracle memang bukan satu-satunya aesthetic clinic di Surabaya, tapi saya memutuskan bergabung di sini karena pada saat itu Miracle adalah klinik paling maju dan sudah menggunakan berbagai teknologi mutakhir dengan treatment yang selalu berkembang,” ungkapnya. Menurutnya apa yang dilihatnya dulu tidak berubah, hingga kini pun Miracle tetap konsisten menghadirkan the best and the latest aesthetic treatment untuk loyal customer-nya.

“Momen terhebat di sini adalah saat saya melihat pasien keluar dengan senyum puas dan rasa percaya diri yang besar. Rasanya seperti membantu sahabat baik lepas dari masalah,” tuturnya mengibaratkan.

Memang selama ini dr Rizky selalu dekat dengan pasien meski tetap menjaga profesionalismenya. “Saya selalu ingin pasien menganggap saya sebagai teman, sahabat bahkan keluarga mereka sendiri sehingga mereka bisa nyaman mengemukakan masalah dan keinginan mereka,” harapnya.

Kunci Keberhasilan
Menurutnya, kepiawaian dokter membina kedekatan dengan pasien merupakan salah satu kunci keberhasilan aesthetic treatment. Selain itu, yang tak kalah penting adalah kepandaian dokter mengombinasikan berbagai perawatan mulai pemakaian cream secara teratur yang disesuaikan dengan jenis dan kondisi kulit pasien serta melakukan berbagai treatment untuk mendapatkan hasil yang optimal. “Itulah mengapa tidak ada istilah berhenti belajar untuk saya. Semuanya saya lakukan agar bisa memberi yang terbaik pada pasien.”

Bergelut dengan dunia aesthetic. Setiap hari dr Rizky dihadapkan dengan perempuan- perempuan cantik yang ingin menyempurnakan kecantikannya. Inilah yang kemudian membuatnya memiliki pandangan baru tentang cantik.

“Kecantikan adalah kombinasi antara kecantikan dari dalam dengan kecantikan lahiriah yang bisa diperoleh karena faktor genetik atau dengan perawatan secara teratur,” tuturnya. Paduan keduanya yang kemudian bisa membuat seseorang tampil menarik dan percaya diri. “Jadi, pada dasarnya setiap orang bisa terlihat cantik,” pungkasnya sembari tersenyum.

Lola Amaria Kartini Modern di Mata Lola

Lola Amaria Kartini Modern di Mata Lola

Posted on 10 May 2011 at 9:54am

“Saya ingat sekali waktu masa karantina di Finalis Wajah Femina, saya dimarahin terus sama mas Denny Malik karena cara jalan saya seperti cowok katanya. Waktu final dan diumumkan jadi juara kategori kebaya, benar-benar surprise rasanya,” tutur Lola Amaria sembari tertawa.

Dari iseng-iseng inilah yang menjadi awal kariernya di dunia model. Setelah mencoba berkecimpung beberapa saat akhirnya perempuan kelahiran Jakarta 34 tahun silam tersebut menyadari bahwa modelling bukanlah panggilan jiwanya.

Sulung dari tiga bersaudara itu pun, mulai mencoba ke dunia layar lebar. Debut layar lebarnya berjudul Tabir (2000), kemudian menyusul film berlatar zaman penjajahan Jepang, Dokuritsu (2000), Beth (2001), dan Cau Bau Kan (2002) yang dibintanginya bersama Ferry Salim.

Sukses sebagai bintang film, Lola mulai tertantang untuk mencoba kebolehannya di balik layar dengan menjadi produser serta sutradara. Perempuan berkulit sawo matang ini pun berkesempatan menjadi produser film Novel Tanpa Huruf R (2004) yang sekaligus dibintanginya, menyutradarai film Betina, dan yang terakhir menyutradarai film Minggu Pagi di Victoria Park yang berhasil mengukir namanya sebagai Best Director dalam JIFFest 12 (2010).

Di dunia layar lebar itulah perempuan yang gemar travelling ini merasa kebebasan dan kreativitasnya teruji. “Kalau jadi model, semua serba diatur dan kita harus mengikuti instruksi. Kalau jadi sutradara malah sebaliknya, saya dituntut untuk kreatif dan bisa men-direct orang. Terserah mau saya buat apa, orang lain akan mengikuti,” ungkapnya.

Mereka adalah Pahlawan
Menyoal ketertarikannya pada kehidupan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong yang dituangkan dalam film terbarunya Minggu Pagi di Victoria Park, Lola mengaku ini adalah upayanya untuk melihat fenomena TKW dari sudut yang berbeda. ”Selama ini TKW lekat dengan stereotip sebagai obyek penderita yang selalu disiksa dan diperkosa. Padahal tidak semua seperti itu, apalagi kalau kita lihat kehidupan TKW di Hongkong yang begitu dinamis.”

Dimatanya perempuan-perempuan Indonesia yang telah berani keluar dari zona nyaman dan mengadu nasib di negeri orang ini adalah sosok Kartini modern yang patut mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. ”Bagi saya mereka pahlawan. Di usia yang masih muda berani meninggalkan kampung, bekerja dan belajar keras di negeri orang. Menekan segala perasaan rindu demi perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya,” ucapnya bangga.

Bagi Lola sendiri syuting film terakhirnya itu menyimpan banyak cerita dan pelajaran yang membuatnya semakin matang sebagai sutradara. Ritme kerja yang berbeda dengan Indonesia, membuat ia harus piawai mengatur waktu yang singkat dengan jadwal yang padat. Belum lagi masalah cuaca yang sulit ditebak dan membuatnya harus memutar otak untuk pandai-pandai menyiasati mulai dari kostum hingga setting film agar antara satu bagian dengan bagian yang lain menyatu dengan apik.

”Untungnya Hongkong adalah negara film, jadi waktu kita syuting mereka biasa saja. Nggak kaya di sini yang langsung dikerubutin kalau ada orang pegang kamera. Jadi lumayan terbantu, semuanya terlihat natural,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang rencana film berikutnya, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi diplomat ini mengatakan kalau dirinya tertarik untuk mengangkat masalah kaum minoritas dan pluralisme. ”Tapi masih belum tahu kapan, paling cepat tahun depan rasanya. Sekarang saya masih menggali data dan riset.”

Investasi Perawatan
Kendati jadwalnya dipadati dengan urusan pekerjaan, perempuan berambut ikal ini mengaku rajin melakukan treatment, karena baginya setiap perawatan adalah investasi. ”Dari dulu saya lebih suka melakukan treatment daripada mempercantik diri dengan makeup. Saya selalu rutin treatment mulai dari tubuh, rambut, sampai wajah. Kalau sudah rajin perawatan, tanpa make up juga sudah terlihat cantik alami,” jelasnya sembari tersenyum.

Memasuki usia 30an Lola memang merasakan stamina tubuhnya tak sebandel dulu lagi. Karenanya ia selalu berusaha menjaga pola makan dan rajin mengonsumsi vitamin. ”Seharusnya memang diimbangi dengan olahraga teratur. Kesibukan membuat saya susah bisa meluangkan waktu untuk olahraga. Tapi biar se-repot apapun minimal seminggu sekali saya selalu ke gym.”

Langsung Nyaman

Saat ditanya pendapatnya soal Miracle Aesthetic Clinic, penggemar sepatu sneakers ini mengaku langsung terkesan saat pertama kali mampir. Sebelumnya Lola sudah sering membaca tentang Miracle di majalah. Sehari-harinya ia sendiri juga sering lewat depan Miracle Aesthetic Clinic yang terletak di Jalan Kemang Raya 19A Jakarta. ”Begitu masuk suasananya membuat perasaan langsung nyaman. Dokter-dokternya ramah dan informatif. Nggak heran kalau Miracle dipercaya ribuan perempuan Indonesia. Jadi nggak sabar buat memulai facial,” pungkasnya.