“Saya ingat sekali waktu masa karantina di Finalis Wajah Femina, saya dimarahin terus sama mas Denny Malik karena cara jalan saya seperti cowok katanya. Waktu final dan diumumkan jadi juara kategori kebaya, benar-benar surprise rasanya,” tutur Lola Amaria sembari tertawa.
Dari iseng-iseng inilah yang menjadi awal kariernya di dunia model. Setelah mencoba berkecimpung beberapa saat akhirnya perempuan kelahiran Jakarta 34 tahun silam tersebut menyadari bahwa modelling bukanlah panggilan jiwanya.
Sulung dari tiga bersaudara itu pun, mulai mencoba ke dunia layar lebar. Debut layar lebarnya berjudul Tabir (2000), kemudian menyusul film berlatar zaman penjajahan Jepang, Dokuritsu (2000), Beth (2001), dan Cau Bau Kan (2002) yang dibintanginya bersama Ferry Salim.
Sukses sebagai bintang film, Lola mulai tertantang untuk mencoba kebolehannya di balik layar dengan menjadi produser serta sutradara. Perempuan berkulit sawo matang ini pun berkesempatan menjadi produser film Novel Tanpa Huruf R (2004) yang sekaligus dibintanginya, menyutradarai film Betina, dan yang terakhir menyutradarai film Minggu Pagi di Victoria Park yang berhasil mengukir namanya sebagai Best Director dalam JIFFest 12 (2010).
Di dunia layar lebar itulah perempuan yang gemar travelling ini merasa kebebasan dan kreativitasnya teruji. “Kalau jadi model, semua serba diatur dan kita harus mengikuti instruksi. Kalau jadi sutradara malah sebaliknya, saya dituntut untuk kreatif dan bisa men-direct orang. Terserah mau saya buat apa, orang lain akan mengikuti,” ungkapnya.
Mereka adalah Pahlawan
Menyoal ketertarikannya pada kehidupan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong yang dituangkan dalam film terbarunya Minggu Pagi di Victoria Park, Lola mengaku ini adalah upayanya untuk melihat fenomena TKW dari sudut yang berbeda. ”Selama ini TKW lekat dengan stereotip sebagai obyek penderita yang selalu disiksa dan diperkosa. Padahal tidak semua seperti itu, apalagi kalau kita lihat kehidupan TKW di Hongkong yang begitu dinamis.”
Dimatanya perempuan-perempuan Indonesia yang telah berani keluar dari zona nyaman dan mengadu nasib di negeri orang ini adalah sosok Kartini modern yang patut mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. ”Bagi saya mereka pahlawan. Di usia yang masih muda berani meninggalkan kampung, bekerja dan belajar keras di negeri orang. Menekan segala perasaan rindu demi perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya,” ucapnya bangga.
Bagi Lola sendiri syuting film terakhirnya itu menyimpan banyak cerita dan pelajaran yang membuatnya semakin matang sebagai sutradara. Ritme kerja yang berbeda dengan Indonesia, membuat ia harus piawai mengatur waktu yang singkat dengan jadwal yang padat. Belum lagi masalah cuaca yang sulit ditebak dan membuatnya harus memutar otak untuk pandai-pandai menyiasati mulai dari kostum hingga setting film agar antara satu bagian dengan bagian yang lain menyatu dengan apik.
”Untungnya Hongkong adalah negara film, jadi waktu kita syuting mereka biasa saja. Nggak kaya di sini yang langsung dikerubutin kalau ada orang pegang kamera. Jadi lumayan terbantu, semuanya terlihat natural,” ungkapnya.
Saat ditanya tentang rencana film berikutnya, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi diplomat ini mengatakan kalau dirinya tertarik untuk mengangkat masalah kaum minoritas dan pluralisme. ”Tapi masih belum tahu kapan, paling cepat tahun depan rasanya. Sekarang saya masih menggali data dan riset.”
Investasi Perawatan
Kendati jadwalnya dipadati dengan urusan pekerjaan, perempuan berambut ikal ini mengaku rajin melakukan treatment, karena baginya setiap perawatan adalah investasi. ”Dari dulu saya lebih suka melakukan treatment daripada mempercantik diri dengan makeup. Saya selalu rutin treatment mulai dari tubuh, rambut, sampai wajah. Kalau sudah rajin perawatan, tanpa make up juga sudah terlihat cantik alami,” jelasnya sembari tersenyum.
Memasuki usia 30an Lola memang merasakan stamina tubuhnya tak sebandel dulu lagi. Karenanya ia selalu berusaha menjaga pola makan dan rajin mengonsumsi vitamin. ”Seharusnya memang diimbangi dengan olahraga teratur. Kesibukan membuat saya susah bisa meluangkan waktu untuk olahraga. Tapi biar se-repot apapun minimal seminggu sekali saya selalu ke gym.”
Langsung Nyaman
Saat ditanya pendapatnya soal Miracle Aesthetic Clinic, penggemar sepatu sneakers ini mengaku langsung terkesan saat pertama kali mampir. Sebelumnya Lola sudah sering membaca tentang Miracle di majalah. Sehari-harinya ia sendiri juga sering lewat depan Miracle Aesthetic Clinic yang terletak di Jalan Kemang Raya 19A Jakarta. ”Begitu masuk suasananya membuat perasaan langsung nyaman. Dokter-dokternya ramah dan informatif. Nggak heran kalau Miracle dipercaya ribuan perempuan Indonesia. Jadi nggak sabar buat memulai facial,” pungkasnya.
Dalam setiap aksinya di atas panggung presenter yang satu ini seakan memberikan ruh yang membuat setiap acara begitu hidup dan dekat di hati pemirsanya. Ditambah lagi pembawaannya yang hangat dan penuh empati, sebuah paket komplit yang ditawarkan Choky Sitohang sebagai public speaker berbakat, sekaligus entertainer sejati.
Santun dan bersahaja, begitu kesan yang lekat dengan pria asal Bandung ini saat tak berada di panggung. Kekaguman dan kedekatannya dengan Sang Pencipta pun tersirat dari setiap tutur kata yang diucapkannya. Melewatkan waktu bercakap-cakap dengannya pun benarbenar melunturkan imaji sosok selebriti yang identik dengan hingar-bingar dan hedonisme.
Mengusut perjalanan yang mengantarnya ke panggung hiburan tanah air, pemilik nama lengkap Binsar Choky Victory Sitohang tersebut mengaku bahwa bakat public speaking ini sebenarnya sudah muncul sedari ia masih balita. ”Waktu kecil dulu sering sekali disuruh maju ke panggung buat nyanyi, atau yang lain. Tanpa rasa takut atau grogi saya langsung aja maju,” kenangnya.
Sekalipun benih tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil, Choky mengaku baru menyadari ketika menginjak remaja. Dari situ ia mulai menyerap ilmu dan mengasah bakat. ”Semakin saya menyerap ilmu, semakin saya menyadari dimana saya harus berdiri dan kemana harus melangkah.”
This Is My Dream
Hingga akhirnya ia pun mantap bahwa public speaking adalah dunia yang ingin didalaminya. ”Public speaking is my passion, this is my dream, what I always want to do,” tutur suami dari Melissa Aryani tersebut.
Saat ditanya, apa yang dirasakannya saat berada di atas panggung, dengan singkat ia menjawab, excitement. Kendati tak jarang banyak hal yang bisa merusak mood-nya sebelum tampil, tapi Choky tetap bisa menjaga suasana hatinya agar tetap happy. ”Saya selalu menjaga antusiasme dan excitement di panggung dengan melatih theater of mind saya.”
Mengenai kecintaannya yang begitu besar terhadap karier yang dilakoninya saat ini, Choky menganggap itu adalah bentuk terima kasihnya kepada Tuhan. “Saya cinta pekerjaan ini karena talenta itu sudah diberikan oleh Tuhan pada saya, and thank God I found it, karena banyak orang diberi talenta tapi enggak bisa menemukan,” jelasnya.
Bagi presenter yang pernah adu akting di film Sang Dewi tersebut, menemukan bakat adalah tantangan yang harus dilakukan setiap insan. ” Kalau sudah menemukan bakat Anda, gali sumur itu. Sumur itu adalah sumur yang jernih dan bisa berguna bagi orang banyak, laksana oase di padang gurun. Jangan rakus, kontrol sesuai yang Tuhan izinkan,” ucapnya.
Saat ditanya soal keterlibatannya di beberapa film layar lebar, ia mengaku kalau itu hanya untuk menambah pengalaman saja, bukan niatan untuk aji mumpung selagi tenar. ”Saya hanya ingin melihat point of view lain dari dunia entertainment sebagai tambahan amunisi saya. Saya ingin menggali sampai dimana bakat saya, karena Tuhan menciptakan orang bisa dengan satu atau lebih talenta dan tugas kita adalah untuk mencari tahu itu,” jelasnya.
Health Management
Menyoal kepiawaiannya membagi waktu, antara keluarga dan karier, Choky mengaku kalau ia banyak belajar dari pengalaman masa lalu. ”Bukan hanya manajemen waktu, tapi sekarang saya sadar pentingnya manajemen kesehatan.”
Punya pengalaman buruk dengan masalah kesehatan yang mendera di awal kariernya, pria berkulit putih ini sekarang memilih untuk menjalankan pola hidup sehat dengan fitnes. ”Ada 3 langkah, pertama: olahraga teratur dan menyeimbangkan kehidupan saya, kedua makan yang tepat, seimbang baik karbohidrat, protein, maupun gizinya. Dan yang ketiga istirahat cukup. Ketiganya adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.”
Hasilnya, kini ia pun merasa lebih bugar dan fit menghadapi sederet jadwal pekerjaan. ”Olahraga adalah investasi, begitu pula dengan apa yang kita makan sekarang. Dalam jangka pendek, dengan pola hidup sehat kita bisa merasakan berat badan turun dan otot mulai terbentuk. Dalam jangka panjang, kita akan memetik hasil stamina yang prima setiap saat,” ucapnya berbagi tip.
Keinginannya untuk berbagai healthy lifestyle tersebut kemudian diwujudkan dengan merintis bisnis roti sehat dengan beberapa orang sahabatnya. ”Ini media yang saya gunakan untuk mengingatkan pada semua orang akan pentingnya kesehatan. Kesehatan yang saya maksud adalah kesehatan jasmani dan rohani. Sekalipun kesehatan jasmani tidak akan bertahan lama, tapi kesehatan rohani bisa mendukung kesehatan jasmani. Itulah yang coba saya seimbangkan dalam menjalani hidup.”
Merajut Mimpi
Impian demi impian pun terus dirajut untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. ”Saya punya angan-angan menjadi businessman suatu hari nanti, dan ini sudah mulai saya rintis. Saya ingin jadi pengajar, ini juga sudah saya rintis dengan menjadi dosen tamu. Begitu pula dengan impian memiliki sekolah presenter yang sekarang sedang dirintis juga. Kalau Tuhan menghendaki dalam waktu dekat saya akan jadi pengusaha dan penyanyi,” paparnya tentang rencana kedepannya.
Perempuan Cantik
Ketika ditanya soal pendapatnya tentang Miracle Aesthetic Clinic, Choky mengaku sangat kagum. ”Klinik ini mewah, elegan, bersih, steril, higienis, dan suasananya membuat orang langsung merasa nyaman, tak salah kalau ribuan perempuan cantik mempercayakan perawatannya di Miracle,” tutur pria yang mengaku sangat menghargai perempuan itu.
”Apa pun kondisinya, setiap orang pasti memiliki kelebihan. Bagi saya, perempuan cantik itu bukan saja pandai merawat diri, tapi juga punya senyum dan rasa percaya diri,” tuturnya mengurai pendapat soal perempuan di matanya.
Oleh karena itu bila ia acap menyapa peserta acara Take Me Out dengan ”Anda cantik sekali malam ini” atau ”penampilan Anda luar biasa hari ini” pujian yang dia lontarkan tersebut bukanlah rayuan gombal yang sudah diskenariokan, melainkan bentuk penghargaan terhadap perempuan yang keluar dari hati nuraninya.
Tetaplah Menjadi Rumah
Pada Miracle yang sudah 14 tahun berhasil menjadi tempat mencari solusi terpercaya bagi ribuan customer, Choky berharap Miracle bisa terus menjadi ”rumah”. ”Saya berharap Miracle bisa tetap menjadi rumah. Rumah artinya menjadi perlindungan, sesuatu yang bisa dipercaya untuk ditempati. Sekaligus tempat ditemukannya solusi.” Ia juga menekankan pentingnya menjaga loyalitas dengan memberikan servis terbaik pada konsumen. ”Berikan servis terbaik serta pelayanan yang rendah hati. Karena tanpa kerendahan hati sesuatu akan runtuh dalam waktu singkat,” tuturnya bersahaja.
Bergabung di Miracle Aesthetic Clinic tidak hanya memberikan kesempatan bagi dokter untuk berkembang secara keilmuan namun mengembangkan diri dan kepribadian sehingga mampu melayani dengan hati. Itulah yang membuat saya mantap memilih bergabung di sini, urai dr Novita Damayanti, SpKK.
Miracle Aesthetic Clinic memang bukan klinik kecantikan pertama tempatnya bekerja, namun dokter yang akrab disapa Novi ini merasakan hanya di Miracle, hubungan dokter dengan pasien bisa begitu dekat dan akrab. “Kita tidak saja dituntut cekatan dalam memberikan tindakan, namun juga cekatan dalam menangkap kegelisahan pasien serta meredakan ketakutan mereka,” tuturnya.
Hal ini seperti pernah dialami oleh seorang pasiennya yang panik dengan reaksi treatment CO2 laser yang dilakukan. Kendati sudah malam, saat itu juga dr Novi menelpon dan memberi penjelasan pada pasiennya tentang reaksi sementara dari treatment yang dilakukan dan memintanya melakukan perawatan rutin sesuai jadwal yang sudah disepakati.
“Sesudah treatment, akhirnya pasien saya menyampaikan pesan singkat, yang intinya ia puas dengan quick response saya,” terang dr Novi tentang salah satu pengalaman tak terlupakan yang pernah dialaminya selama bergabung di sini.
Dekat di Hati
Bagi ibu dua orang anak ini, hal-hal seperti itulah yang membuat Miracle begitu dekat di hati. Segala sesuatunya tidak dilakukan dengan hit and run. Sebelum memulai treatment, para dokter akan memberikan penjelasan secara gamblang tentang apa, bagaimana, dan kemungkinan efek samping dari perawatan yang dilakukan. “Selain itu kita juga harus menyediakan waktu untuk mengontrol perkembangan pasien usai tindakan. Hal-hal seperti ini sangat berarti bagi pasien,” imbuhnya.
Mendalami dunia aesthetic yang berkembang begitu pesat baginya, punya banyak tantangan. “Kita dituntut bisa berpacu mengembangkan diri sehingga bisa memberikan yang terbaik untuk pasien.” Selain itu, dokter yang hobi traveling di waktu luangnya ini mengatakan bahwa menjadi dokter yang menggeluti dunia aesthetic juga harus memiliki jiwa seni dan bisa memahami kondisi psikologis pasien.
“Bila pasien yang datang pada kita dalam kondisi kurang secara fisik, kita harus bisa membuat mereka menjadi percaya diri. Sedangkan yang sudah baik (normal) secara fisik, harus kita buat agar tampak lebih baik lagi. Kalau sudah begini, jiwa seni seorang dokter sangat dituntut,” ungkapnya
Anugerah Tuhan
Kendati kesibukannya di Miracle cukup menyita waktu, perempuan kelahiran 17 November 1974 ini mengaku keluarganya sangat mendukung profesinya. “Puji Tuhan, keluarga saya sangat mendukung karena saya tetap bisa menempatkan diri sebagai istri dan ibu rumah tangga dengan baik. Keluarga adalah anugerah Tuhan dan merekalah yang memberi kekuatan, inspirasi, serta warna dalam hidup saya.”
Diakui, selama ini ibundanya banyak berperan mengajarkan banyak kearifan hidup. “Mama selalu memberi tuntunan bagi saya dalam menjalani hidup dan mengajari saya untuk selalu bersyukur serta tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain. Karenanya, saya ingin memberikan yang terbaik untuk Mama dan selalu mengasihi beliau sampai kapan pun,” tuturnya.
Natal Penuh Kasih
Kehangatan berada di tengah-tengah keluarga menjadi saat yang selalu dirindukannya, terutama ketika berkumpul bersama merayakan Natal. “Natal memberikan kelahiran baru dalam hidup saya. Setiap tahun tentu saya selalu rindu dengan suasana Natal yang hangat dan penuh kasih.”
Untuk merayakan momen istimewa tersebut, selain menata pohon Natal dan kado dengan buah hati tercinta dan suami, mereka biasanya juga berbagi kebahagiaan saat malam Natal dengan anak-anak jalanan. “Biasanya kami berbagi makanan dengan anak jalanan. Senang rasanya bisa berbagi meskipun sedikit. Senyum tulus mereka adalah kebahagiaan yang tak ternilai buat kami sekeluarga,” tuturnya.
Pagi harinya, setelah saling berucap ”Merry Christmas”, bersama seluruh anggota keluarga mereka menuju pohon natal dan membuka kado di sana. “Buat saya kado Natal terindah yang pernah saya terima adalah anugerah berupa keluarga yang penuh kasih dalam hidup saya,” pungkasnya.
Sebagai seorang dokter, Alexander Bayu Santoso tahu benar bagaimana standar pelayanan medis yang baik. Karenanya pria yang akrab disapa dr Alex ini pun sangat selektif memilih klinik perawatan yang pas untuknya.
Kulitnya yang kering membuat dokter berusia 34 tahun tersebut sering mengalami gatal dan kemerahan di kulit, utamanya wajah. Setelah mencoba ke sana – ke mari, akhirnya pilihan jatuh pada Miracle Aesthetic Clinic. “Sudah sejak tahun 2008 saya mencoba pelayanan di Miracle, dan ternyata Miracle bisa mengatasi masalah saya dengan baik,” tuturnya.
Pelayanan yang baik, prosedur sterilitas sesuai standar medis, adalah beberapa hal yang membuat customer Miracle Aesthetic Clinic cabang MH Thamrin, Surabaya itu merasa nyaman sekaligus aman selama melakukan treatment di sini.
“Satu hal lagi yang membuat saya semakin mantap menjadi customer di sini. Layanan Miracle sangat profesional dan benar-benar memahami kebutuhan saya,” pungkas dokter sekaligus pemilik apotek tersebut.
Bila kebanyakan wanita merasa resah memasuki usia akhir 30-an, tidak demikian halnya dengan Caecilia Irene. “Buat apa bingung, saya sudah mempercayakan semuanya pada Miracle cabang Kertajaya Indah Surabaya,” tutur perempuan yang lahir 38 tahun silam tersebut. Diakui, awalnya ia sempat merasa khawatir karena kulitnya cenderung kering, sedang banyak teman dekatnya mengaku bermasalah dengan kulit yang semakin kering memasuki usia 40.
“Saya coba mencari info ke sana – ke mari untuk mengatasi masalah tersebut hingga akhirnya ada teman yang menyarankan untuk ke Miracle,” jelas perempuan yang mengaku langsung merasa klop sejak kali pertama treatment di Miracle. Menurutnya, pelayanan di sini sangat ramah, dan pendekatan dokter maupun beauty therapist juga begitu memahami kebutuhan pasien.
Untuk menjaga kelembaban kulitnya, secara teratur Caecilia melakukan perawatan Intensive O2 Facial, serta treatment mata dan leher untuk mencegah kerutan- kerutan halus muncul. “Bila semua sudah ditangani ahlinya, kita tinggal menikmati hasil karya mereka,” tuturnya sembari tersenyum.
“Dapat 5 penghargaan sekaligus waktu FFI kemarin bikin saya merasa dapat titipan tugas baru dari Tuhan. Rasanya seperti Tuhan mengatakan, Titi kamu harus lebih bertanggungjawab, kamu punya sesuatu, kamu harus kembangkan itu dengan baik, dan beri inspirasi buat orang lain,” tutur artis yang kini akrab terlihat di layar kaca dalam acara pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta tersebut.
Dulu mungkin orang hanya mengenalnya sebagai istri drummer kondang, Wong Aksan. Tapi kini semua orang pun paham Titi Sjuman adalah wanita dengan segudang talenta yang membuat langkahnya tak terbendung. Penghargaan demi penghargaan menghiasi perjalanan kariernya sebagai aktris yang patut diperhitungkan sekaligus penata musik berbakat.
Sukses menyabet penghargaan Aktris Pendatang Baru Terbaik Indonesian Movie Award 2008 di film pertamanya, “Mereka Bilang Saya Monyet,” kini Titi baru saja merampungkan film ketiganya, Rindu Purnama. “Ceritanya tentang anak jalanan dan saya berperan sebagai Monique, eksekutif muda yang kuliah di luar negeri. Ketika pulang dia ingin menguasai seorang laki-laki yang bekerja di perusahaan bapaknya. Dari sini muncul konflik-konflik percintaan,” ungkap ibu dari Miyake Shakuntala Sjuman tersebut.
Rencananya, film yang disutradarai oleh aktor senior, Mathias Muchus ini akan diluncurkan pada bulan Desember 2010. “Syuting memang sudah tuntas tapi pekerjaan saya nggak berhenti sampai di situ. Sekarang saya mulai menggarap scoring musiknya,” tutur wanita yang berhasil menunjukkan kebolehannya di dunia musik dengan membawa pulang penghargaan Scoring Terbaik Festival Film Bandung 2009 untuk film Sang Pemimpi, serta Scoring Terbaik FFI 2010 untuk film King.
Saat ditanya mana yang lebih menarik menggeluti seni peran ataukah membuat music score, sontak ia menjawab, “Dua-duanya! Karena masing-masing bisa membuat kangen dengan cara yang berbeda.” Bagi alumnus S1 Musik (Institut Musik Daya Indonesia) tersebut mengaransemen musik seakan menjadi obat penawar rindu pada alunan nada-nada indah. ”Saya dan Mas Aksan lebih memilih membuat music score karena kita berdua sama-sama suka film dan pecinta komposer-komposer film, seperti John Wiliams yang membuat music score untuk film Superman, Spiderman, dan Harry Potter,” urainya.
Lain halnya dengan bermain film yang baginya banyak mengajarkan tentang kearifan hidup. ”Saya belajar bagaimana menjadi orang yang lebih dewasa, lebih toleransi, lebih tahu sistem kerja, membangun team work, dan saling men-support kru-kru. Dan itu saya dapat bukan hanya dari para senior tapi juga dari kru yang kadang tidak banyak dianggap orang, seperti tim lighting atau pekerja umum,” urainya bersahaja.
Sekalipun berbagai penghargaan di dunia film dan musik telah membuktikan kepiawaiannya, penghobi traveling ini mengaku masih ingin belajar banyak. ”Semua penghargaan termasuk membawa pulang 5 piala di ajang FFI kemarin benar-benar di luar dugaan saya. Biar begitu saya merasa masih perlu belajar banyak. Kalo perlu go international untuk mencuri ilmu dari luar dan ditularkan di sini.”
Jiwa yang Bebas
Jiwanya yang bebas, tergambar dari tutur katanya yang lepas dan lugas. Cocktail dress berwarna baby pink yang terlihat manis dikenakan perempuan berkulit sawo matang ini pun tak bisa menyembunyikan itu semua. ”Sebenarnya saya orangnya sangat casual, hobi pakai kaos dan sandal jepit. Tapi kalau untuk acara tertentu atau pemotretan seperti ini ya harus profesional. Ntar turun dari panggung balik lagi pakai sandal,” tuturnya santai.
Untuk urusan make up perempuan kelahiran 10 Februari 1981 ini mengaku cuek. ”Boleh percaya boleh nggak, saya tidak pernah pakai make up. Baru akhir-akhir ini suka pakai lipstick. Biasanya polos aja, paling kalau mau keluar pakai mascara. Bedak juga nggak, apalagi kalau muka lagi bersih,” urainya.
Menjaga dari Luar dan Dalam
Memiliki kulit berwarna gelap baginya adalah anugerah, untuk itu Titi menjaganya dengan perawatan Diamond Peeling. ”Setelah di-peeling, kulit mati berasa hilang semua dan langsung terlihat cerah. Setelah itu kalau pakai make up jadi kelihatan lebih bagus,” tutur artis yang mengaku tahu Miracle Aesthetic Clinic pertama kali dari sebuah majalah tersebut.
Sekalipun aktivitasnya tinggi, Titi mengaku sebisa mungkin menghindari begadang. ”Perawatan dari luar memang penting, tapi upaya untuk menjaga tubuh sehat dari dalam juga nggak kalah penting. Itulah mengapa saya mengurangi tidur lewat larut malam dan menjaga asupan makanan.”
Meski tanda-tanda aging belum menghantui wajah eksotisnya, penggemar makanan Gado-gado ini memilih mencegah penuaan dini dengan lebih banyak mengonsumsi sayur dan mengurangi konsumsi minyak serta gula.
Langsung Terasa Bedanya!
”Beruntung saya punya kulit yang cukup bandel. Paling-paling masalahnya jerawat, itupun jarang. Tapi kalau memang ada problem kulit saya bisa lebih tenang sekarang karena sudah kenal Miracle,” ucapnya sembari tersenyum.
Pecinta warna hitam ini mengaku terkesan dengan pelayanan di Miracle. ”Servisnya oke, dokternya sangat ramah, dan yang terpenting langsung terasa bedanya,” tuturnya sembari mengacungkan jempol.
Merajut Angan
Saat ditanya tentang rencananya ke depan, dengan mata berbinar ia mengatakan. ”Saya punya angan-angan suatu saat nanti bisa menggelar konser dengan konsep yang belum pernah ada. Di situ nanti ada filmnya, dipadu visual, musik orkestra dan juga pertunjukkan teater, tari, penyanyi, dan nggak ketinggalan ada pemain drumnya. Pokoknya jadi satu semua. Mudah-mudahan bisa terwujud,” ucapnya penuh harap.
“Setiap orang unik dan keinginannya sangat bervariasi. Itulah yang membuat pekerjaan saya menarik,” tutur dr Fanny Riawati Imannuddin yang sudah 7 tahun bergabung dengan Miracle Aesthetiic Clinic.
Berbincang dengan dokter yang akrab disapa Fanny ini membuat waktu berlalu begitu cepat. Kendati secangkir teh yang sedari tadi menemani sudah mulai dingin, obrolan tetap mengalir hangat. “Kalau sekarang akhirnya bisa menemukan pekerjaan yang begitu saya nikmati, itu semua karena ayah,” kenangnya. Bagi wanita bertubuh mungil itu, menjadi dokter sebenarnya adalah impian terbesar almarhum ayahandanya, ia sendiri sempat berangan-angan menggeluti dunia Iptek.
Tapi rupanya dari impian sang ayah inilah dr Fanny menemukan kehidupan yang diimpikannya. “Seperti yang pernah ayah saya katakan, dokter itu merupakan pekerjaan yang mulia, dan ternyata dengan menjadi dokter saya bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang lain, keluarga bahkan diri sendiri,” tuturnya.
Belajar Banyak
Menggeluti dunia estetik medis di Miracle ternyata juga membuat ibu satu orang putra tersebut belajar banyak. Bukan hanya kemampuan estetik medisnya yang bertambah tapi juga estetik. “Pasien estetik dengan pasien umum sangat berbeda karakter, karena ada harapan-harapan yang diinginkan oleh pasien estetik lebih tinggi dan bervariasi. Disinilah soft skill saya terbentuk. Bagaimana bisa menjalin komunikasi yang baik dengan pasien dan juga memahami apa yang diinginkan,” jelas dokter yang kini sedang mendalami Master Anti Aging Medicine di Udayana Bali, tersebut.
“Ini bukan hal mudah. Tanpa komunikasi yang baik, sulit untuk bisa membuat pasien memahami rekomendasi yang kita berikan. Sebut saja soal anti aging treatment, mungkin orang baru merasa perlu kalau sudah ada kerutan yang muncul. Padahal sebenarnya proses pencegahan harus dilakukan sejak dini,” imbuhnya.
Mengurai lebih lanjut soal anti aging pecinta warna hijau tersebut mengungkapkan bahwa hal itu bisa dilakukan sejak belia, salah satu caranya dengan membiasakan si kecil mengonsumsi makanan yang sehat dan memperkenalkan pentingnya olahraga teratur.
Memasuki usia 20-an ketika mekanisme dalam tubuh berubah bisa ditambahkan suplemen bernutrisi dan diimbangi dengan melakukan perawatan sesuai dengan kondisi masing-masing individu. “Untuk lebih spesifiknya perlu pemeriksaan hormon pada wanita maupun pria agar bisa lebih dipantau kondisi tubuhnya karena anti aging treatment tanpa ditunjang kesehatan yang optimal, hasilnya tidak akan maksimal.”
Anti Aging Medicine
Peran anti aging medicine untuk perawatan lebih lanjut dinilai dr Fanny punya peran besar. “Anti Aging Medicine yang dikembangkan Miracle merupakan rangkaian holistic treatment yang terdiri dari diet, olahraga, suplemen bernutrisi, stress management, hormon replacement therapy (terapi sulih hormon), detoksifikasi, dan gene therapy.”
Hasilnya tentu saja bisa lebih dirasakan karena rangkaian perawatan ini tidak hanya membuat seseorang terlihat cantik dari luar tapi juga sehat dari dalam. “Perawatan dengan konsep beauty inside out ini akan membuat pasien feel great about herself dan bisa menikmati pertambahan usianya,” tuturnya bersemangat.
Dijelaskan bahwa usia kritis dimana seseorang dikatakan mulai aging adalah usia 40 tahun, dimana tanda-tanda penuaan sudah banyak muncul, diantaranya seperti: mudah lelah, kurang bergairah dalam pekerjaan, mulai timbul gejala penyakit, menurunnya daya ingat serta produksi hormon, dan sebagainya. “Untuk mengatasi masalah tersebut Miracle kini punya anti aging treatment terbaru yaitu: Weight Management Program, Wellness Program, Anti Aging Detox Program, Bio Hormone Program, dan Aesthetic Anti Aging Program.”
Mengingat semakin banyaknya kebiasaan buruk yang memperburuk proses aging, dokter yang hobi berenang di sela-sela waktu luangnya ini mengingatkan pentingnya memulai pola hidup sehat. “Konsumsilah makanan sehat, lakukan olahraga secara teratur, manage stress dengan positif, selalu berinteraksi dengan sesama, dan lakukan check up kesehatan berkala. Dengan konsisten melakukan itu, Anda sudah menjalankan winning formula to age gracefully,” pesannya.
“Very impressing,” demikian Prof dr med Michael Klentze, pakar anti aging dari Vitallife, Bangkok ini mengungkapkan pendapatnya tentang Miracle Aesthetic Clinic. Profesor yang mengaku sudah dua kali berkunjung ke Miracle tersebut mengatakan bahwa klinik ini termasuk salah satunya yang terbaik di Asia. Terlebih kini Miracle Aesthetic Clinic dilengkapi dengan Miracle Anti Aging Center (MAAC) yang memberikan solusi aging menyeluruh sehingga semakin memantapkan keberadaan Miracle menjadi top quality aesthetic clinic.
Prof Klentze mengaku terkesan melihat bagaimana Miracle memberikan layanan sepenuh hati pada pasiennya. Para dokter di sini pun selalu diasah kemampuannya mengikuti perkembangan estetik medis terbaru dengan didukung peralatan terkini. “I think Indonesia should be proud of the Miracle”, imbuhnya saat ditemui di sela-sela acara Anti Aging Training yang digelar Miracle Aesthetic Academy pada 23-25 Juni 2010 lalu di Miracle Thamrin, Surabaya.
Kesibukannya yang sangat padat, tak membuat Lanny Susana melupakan perawatan kulit wajahnya. “Sejak mencoba perawatan di Miracle Tunjungan Plaza Surabaya, rasa percaya diri saya bertambah. Apalagi waktu banyak teman yang bilang kalau kulit saya sekarang terlihat bersinar dan sehat,” jelas wanita yang menjabat sebagai Portfolio Manager ini.
Sejak menjadi customer tahun 2008, Lanny telah mencoba berbagai perawatan dan yang menjadi favoritnya adalah PPx Laser treatment “Hasilnya sangat memuaskan, kulit langsung terasa kenyal setelah perawatan,” ungkapnya.
Soal pengalamannya selama menjalani treatment, perempuan yang tahun ini genap berusia 26 tahun tersebut merasa beruntung akhirnya menemukan Miracle.
“Thank God I found Miracle, dilayani oleh dokter-dokternya yang ramah. Sekarang saya bisa tenang karena sudah ditangani langsung oleh ahlinya,” ujarnya sembari tersenyum.
“I think Miracle is a perfect partner, and I’m very pleased Vitallife can work together with Miracle Anti Aging Center (MAAC),” ungkap Anthony Jude Tan, CEO Vitallife Corporation saat ditemui di sela-sela acara launching MAAC pada 24 Juli 2010 di Miracle Thamrin, Surabaya. Penilaian ini diberikan Anthony karena ia melihat totalitas Miracle mempersiapkan MAAC, baik dari segi fasilitas maupun skill dokter-dokter yang menangani. Saat ini memang banyak klinik yang menawarkan perawatan anti aging namun hanya sedikit yang benar-benar menyediakan holistic treatment seperti Miracle.
CEO Vitallife Corporation, Bangkok ini juga menilai Miracle adalah klinik yang memiliki integritas karena semua program serta treatment-nya diberikan berdasarkan bukti ilmiah (scientific evidence). Menurutnya Miracle sangat proaktif dalam menangani customer, dan tenaga medis di balik MAAC punya kemampuan mumpuni tentang anti aging. “With all of that strength, I’m sure MAAC will be the leading anti aging center,” tandasnya
| Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat | Sun |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||