Fenni Rose “Ingin seperti Spons”0 comments

By admin
Posted on 10 Jun 2010 at 4:16am
Share

Wajahnya akrab menghiasi layar kaca dengan gaya bertuturnya yang tegas. Kepiawaiannya mengolah kata dan membawakan acara, membuat perempuan bernama Fenni Rose ini terpilih sebagai pembawa acara infotainment terfavorit pilihan pemirsa dalam ajang Panasonic Award 2007 lalu.

Fenni terlihat santai berbalut busana kasual sembari menikmati secangkir teh hangat saat menceritakan perjalanan kariernya di jagad entertainment. Bakat terpendam dan insting kuat ibunda adalah dua hal yang membawa pemilik nama lengkap Fenni Rosewidyahari ini meraih sukses dalam berkarier.

“Awalnya dari menjadi bintang iklan sebuah produk sabun cuci, dari situ mulai terbuka kesempatan jadi presenter di beberapa acara,” tuturnya. Padahal, kalau dirunut, karier yang dijalaninya saat ini jauh dari cita-citanya menjadi seorang koreografer atau penari. “Ibu saya yang mengingatkan kalau saya sepertinya lebih cocok jadi presenter. Saya sempat heran juga, darimana ibu bisa punya pikiran seperti itu. Tapi mungkin ya itu namanya doa ibu, nyatanya sekarang saya eksis di dunia presenter”.

“Kamera itu Seperti Pacar” Dukungan yang besar dari kedua orang tuanya membuat Fenni semakin mantap menjejakkan langkah sebagai presenter. “Pengamat dan pengkritik terbesar saya adalah ibu, dengan telaten beliau mengikuti setiap penampilan saya di TV dan memberi kritik atau komentar kalau ada yang tidak pas,” imbuhnya.

Perempuan kelahiran kota Malang ini sejak kecil memang telah terbiasa tampil di depan umum. Kegiatan sebagai penari yang digeluti sejak belia, membuatnya terbiasa menghadapi sorotan mata penonton. “Ketika tampil di televisi, apalagi tampilnya di depan kamera saya sama sekali tidak nervous. Saya anggap kamera itu seperti pacar dan juga teman ngobrol. Meski sebenarnya kamera mewakili lebih banyak penonton.”

Banyak Tantangan
Menjadi seorang pembawa acara ternyata menyimpan banyak tantangan. Tak sekadar tampil cantik dengan make up lengkap, pengetahuan yang luas dan kecakapan membaca situasi menjadi modal utama untuk bisa membawakan acara dengan luwes, “Ada banyak keahliankeahlian lain yg lebih menantang untuk dipelajari. Ada berbagai macam format dan konsep acara, dan kita dituntut bisa menjadi bagian dari program itu supaya menarik ditonton,” jelasnya.

Mampu melebur dalam setiap acara menjadi salah satu modal penting yang disoroti Fenni. “Saya bukan bintang, karena saya adalah bagian dari acara. Seperti apa konsep dan pesan yang ingin disampaikan dalam acara penting untuk dipahami. Tidak egois untuk bisa menjadi lebur ke dalam suatu program itu tantangan pertama.”

Tantangan kedua, bagi ibu dua orang anak ini adalah update pengetahuan. “Tak hanya mengawal jalannya acara dari awal hingga akhir, kita juga harus punya pengetahuan cukup dalam tentang acara yang dibawakan.” “Buat saya, presenter adalah pekerjaan yang sangat enak, karena kita bisa belajar dengan gratis tapi dibayar. Dimana lagi ada pekerjaan seperti itu?” lanjutnya disertai derai tawa ringan.

Cara Sehat Memanjakan Diri
Di sela-sela jadwalnya yang berderet, Fenni tak lupa meluangkan waktu untuk berolahraga. Bukan sekadar untuk kebugaran, baginya olahraga juga cara untuk memanjakan diri. ”Olahraga yang saya lakukan macam-macam, mulai dari yoga, salsa, belly dance, dan juga fitness. Ini adalah cara sehat untuk memanjakan diri.”

Sedangkan untuk perawatan tubuh dan wajah, Fenni memang memilih Miracle Aesthetic Clinic. “Saya rutin melakukan Antioxidant Program serta melakukan Mesotherapy, di Miracle dan hasilnya memuaskan.”

Bicara soal pengalaman pertamanya di Miracle, Fenni mengaku itu adalah sebuah pengalaman tak terlupakan. “Ambiencenya begitu hangat membuat saya langsung kerasan melakukan perawatan di Miracle. Saat konsultasi serta melakukan perawatan, stafnya ramah dan komunikatif. Satu poin penting yang jarang saya temukan di klinik kecantikan lain,” ucap penggemar bakso ini mantap.

“Saya merasa special di Miracle karena dokter yang ada di sini bukan hanya terampil, lebih dari itu, mereka sangat komunikatif, bisa memberi solusi dan memaparkan panjang lebar mengapa kita perlu ini dan itu,” “Bagi saya sebenarnya yang dibutuhkan pasien adalah komunikasi bukan konsultasi yang rutin.”

Untuk mendukung treatment-nya di Miracle, lulusan Antropologi Universitas Indonesia ini juga sangat memperhatikan healthy life style. “You are what you eat, karenanya saya sangat memperhatikan

soal pola makan. Sebisa mungkin mengonsumsi makanan yang alami dan rajin mengonsumsi jus. Utamanya jus tomat dan pepaya karena banyak mengandung vitamin C dan vitamin A yang bagus untuk kulit.” “Minum air putih yang banyak dan tidur cukup,” tambahnya.

Menjadi Spons
Bagi pecinta warna hitam dan putih ini, karier yang dilakoninya masih panjang. Sederet cita-cita masih dikejarnya, termasuk salah satunya memiliki segmen talkshow sendiri yang menjadi ruangnya untuk mengajak perempuan agar lebih berdaya.

“Saya ingin menjadi spons yang memiliki daya serap luar biasa. Karena di dunia ini banyak sekali yang bisa kita pelajari. Dimanapun saya berada, saya ingin jadi spons yang bisa menyerap banyak ilmu dan tak berhenti untuk terus belajar.”

Kemauannya yang keras dan semangatnya yang besar menjadi satu hal yang membuat anak ke 3 dari 4 bersaudara ini bisa terus eksis di tengah bermunculannya wajah-wajah baru di dunia televisi. “Sekali orang merasa puas dengan dirinya sendiri, buat saya itu adalah saatnya dia berhenti juga untuk menjadi seseorang,” ucapnya mengakhiri percakapan siang itu yang mengalir hangat. Sehangat sapaan beauty therapist yang siap mengantarkan Fenni menuju ruang treatment.

Read also

Comments are closed.