“Saya ingat sekali waktu masa karantina di Finalis Wajah Femina, saya dimarahin terus sama mas Denny Malik karena cara jalan saya seperti cowok katanya. Waktu final dan diumumkan jadi juara kategori kebaya, benar-benar surprise rasanya,” tutur Lola Amaria sembari tertawa.
Dari iseng-iseng inilah yang menjadi awal kariernya di dunia model. Setelah mencoba berkecimpung beberapa saat akhirnya perempuan kelahiran Jakarta 34 tahun silam tersebut menyadari bahwa modelling bukanlah panggilan jiwanya.
Sulung dari tiga bersaudara itu pun, mulai mencoba ke dunia layar lebar. Debut layar lebarnya berjudul Tabir (2000), kemudian menyusul film berlatar zaman penjajahan Jepang, Dokuritsu (2000), Beth (2001), dan Cau Bau Kan (2002) yang dibintanginya bersama Ferry Salim.
Sukses sebagai bintang film, Lola mulai tertantang untuk mencoba kebolehannya di balik layar dengan menjadi produser serta sutradara. Perempuan berkulit sawo matang ini pun berkesempatan menjadi produser film Novel Tanpa Huruf R (2004) yang sekaligus dibintanginya, menyutradarai film Betina, dan yang terakhir menyutradarai film Minggu Pagi di Victoria Park yang berhasil mengukir namanya sebagai Best Director dalam JIFFest 12 (2010).
Di dunia layar lebar itulah perempuan yang gemar travelling ini merasa kebebasan dan kreativitasnya teruji. “Kalau jadi model, semua serba diatur dan kita harus mengikuti instruksi. Kalau jadi sutradara malah sebaliknya, saya dituntut untuk kreatif dan bisa men-direct orang. Terserah mau saya buat apa, orang lain akan mengikuti,” ungkapnya.
Mereka adalah Pahlawan
Menyoal ketertarikannya pada kehidupan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hongkong yang dituangkan dalam film terbarunya Minggu Pagi di Victoria Park, Lola mengaku ini adalah upayanya untuk melihat fenomena TKW dari sudut yang berbeda. ”Selama ini TKW lekat dengan stereotip sebagai obyek penderita yang selalu disiksa dan diperkosa. Padahal tidak semua seperti itu, apalagi kalau kita lihat kehidupan TKW di Hongkong yang begitu dinamis.”
Dimatanya perempuan-perempuan Indonesia yang telah berani keluar dari zona nyaman dan mengadu nasib di negeri orang ini adalah sosok Kartini modern yang patut mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak. ”Bagi saya mereka pahlawan. Di usia yang masih muda berani meninggalkan kampung, bekerja dan belajar keras di negeri orang. Menekan segala perasaan rindu demi perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya,” ucapnya bangga.
Bagi Lola sendiri syuting film terakhirnya itu menyimpan banyak cerita dan pelajaran yang membuatnya semakin matang sebagai sutradara. Ritme kerja yang berbeda dengan Indonesia, membuat ia harus piawai mengatur waktu yang singkat dengan jadwal yang padat. Belum lagi masalah cuaca yang sulit ditebak dan membuatnya harus memutar otak untuk pandai-pandai menyiasati mulai dari kostum hingga setting film agar antara satu bagian dengan bagian yang lain menyatu dengan apik.
”Untungnya Hongkong adalah negara film, jadi waktu kita syuting mereka biasa saja. Nggak kaya di sini yang langsung dikerubutin kalau ada orang pegang kamera. Jadi lumayan terbantu, semuanya terlihat natural,” ungkapnya.
Saat ditanya tentang rencana film berikutnya, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi diplomat ini mengatakan kalau dirinya tertarik untuk mengangkat masalah kaum minoritas dan pluralisme. ”Tapi masih belum tahu kapan, paling cepat tahun depan rasanya. Sekarang saya masih menggali data dan riset.”
Investasi Perawatan
Kendati jadwalnya dipadati dengan urusan pekerjaan, perempuan berambut ikal ini mengaku rajin melakukan treatment, karena baginya setiap perawatan adalah investasi. ”Dari dulu saya lebih suka melakukan treatment daripada mempercantik diri dengan makeup. Saya selalu rutin treatment mulai dari tubuh, rambut, sampai wajah. Kalau sudah rajin perawatan, tanpa make up juga sudah terlihat cantik alami,” jelasnya sembari tersenyum.
Memasuki usia 30an Lola memang merasakan stamina tubuhnya tak sebandel dulu lagi. Karenanya ia selalu berusaha menjaga pola makan dan rajin mengonsumsi vitamin. ”Seharusnya memang diimbangi dengan olahraga teratur. Kesibukan membuat saya susah bisa meluangkan waktu untuk olahraga. Tapi biar se-repot apapun minimal seminggu sekali saya selalu ke gym.”
Langsung Nyaman
Saat ditanya pendapatnya soal Miracle Aesthetic Clinic, penggemar sepatu sneakers ini mengaku langsung terkesan saat pertama kali mampir. Sebelumnya Lola sudah sering membaca tentang Miracle di majalah. Sehari-harinya ia sendiri juga sering lewat depan Miracle Aesthetic Clinic yang terletak di Jalan Kemang Raya 19A Jakarta. ”Begitu masuk suasananya membuat perasaan langsung nyaman. Dokter-dokternya ramah dan informatif. Nggak heran kalau Miracle dipercaya ribuan perempuan Indonesia. Jadi nggak sabar buat memulai facial,” pungkasnya.




