Begitu menjejakkan kaki di bumi Sam Ratulangi, Manado, aroma liburan langsung menggoda. Bagaimana tidak, ibukota Sulawesi Utara ini diwarisi dengan alam yang memesona, dan juga kuliner yang siap memanjakan lidah Anda.
Memasuki kota Manado, Anda akan bertemu dengan penduduk yang berasal dari hampir seluruh penjuru Indonesia. Penduduk Asli Manado sendiri adalah orang-orang Bantik, namun mayoritasnya adalah Minahasa.
Menurut masyarakat setempat, kata Manado diambil dari nama sebuah pulau kecil di sebelah pulau Bunaken, yang dulunya terkenal sebagai pulau bajak laut. Kalau diartikan, Manado atau dulunya disebut mana dou, dalam bahasa Minahasa berarti “di tempat jauh.” Kata tersebut kemudian dipopulerkan oleh pedagang-padagang rempah pada masa Hindia Belanda, menjadi sebutan bagi negeri yang cantik di daratan luas seberang laut.
Sedangkan tempat di mana sekarang kota Manado berdiri, dulunya adalah sebuah negeri yang di sebut “Pogidon,” didirikan oleh anak-anak suku bangsa Bantik. Pendirian kawasan ini ditandai dengan penanaman 7 pohon “Kay Dondo” yang sangat legendaris (sangat disayangkan pada masa Kolonel Sutrisno menjabat sebagai Komandan Korem 131 Santiago, 5 dari 7 pohon tersebut ditebang. Kemudian pada tahun 2000, 1 lagi ditebang oleh Letkol Runtukahu, sehingga sampai sekarang hanya tinggal tersisa 1 batang pohon bersejarah di halaman Korem 131).
Must Visit Spot
Tempat yang tak boleh terlewatkan saat Anda berkunjung ke Manado pastinya adalah Bunaken. Hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit menggunakan perahu motor, Anda akan sampai di Bunaken. Tempat persewaan perahu motor bisa dilakukan dari 3 tempat yaitu Pasar Bersahati dan Marina. Tentu saja sesuai dengan lokasinya, sewa perahu motor di Marina lebih mahal ketimbang di Pasar Bersehati, bedanya bisa 2 kali lipat. Bila dari Marina, sewanya bisa mencapai Rp. 700ribu-800ribu untuk sampai ke Bunaken atau pulau di sekitar Bunaken.
Taman Laut Nasional yang sudah melegenda sampai ke mancanegara ini memiliki koleksi ikan dan terumbu karang yang tak ternilai harganya. Lebih dari 3.000 spesies ikan menghuni taman laut ini, sehingga kawasan ini disebut sebagai “perairan Segi Tiga Emas.” Maksudnya adalah perairan yang menghubungkan Laut Papua, Filipina, dan Indonesia, dan di resmikan sebagai Taman Laut Nasional pada tahun 1991 oleh Menteri Kelautan pada saat itu.
Pulau kecil di seberang Manado yang luasnya hanya sekitar 8km2 tersebut, memiliki lebih dari 40 tempat Scuba Diving Center, jadi jangan khawatir kehabisan peralatan selam bila sampai di sana. Harga sewanya juga tidak mahal, sekitar Rp. 100 ribu per hari.
Yang menarik dari wisata laut Bunaken, dan tidak dimiliki oleh wisata laut lainnya adalah “Underwater Great Walls” atau di sebut juga “Hanging Walls.” Dinding-dinding karang raksasa yang membentang dari bagian tenggara pulau hingga barat laut. Dinding karang raksasa ini adalah merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan Bunaken
Tempat lain yang terkenal dengan keindahan teater bawah lautnya adalah Pantai Malalayang. Pantai ini hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pusat Kota Manado. Selain diving ataupun snorkeling, Anda juga bisa menikmati view Kota Manado dan pemandangan terbuka menghadap pulau Manado Tua.
Kota Bunga Tomohon
Lain halnya dengan yang akan Anda temukan di Tomohon. Sebuah kota bunga yang terletak sekitar 28km dari Kota Manado. Di kota ini terdapat dua buah gunung yang seringkali menjadi tujuan wisata alam, yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu.
Ada satu kawasan di daerah lereng Gunung Mahawu yang disebut Bukit Doa Mahawu. Kawasan ini merupakan lokasi jalan salib dengan sebuah gereja megah berdiri di puncaknya. Pada bulan-bulan tertentu, utamanya Oktober dan Mei, Bukit Doa banyak dikunjungi oleh peziarah.
Tempat eksotis dan unik lain di Tomohon adalah Danau Linau. Danau ini sering disebut Danau Tiga Warna. Disebut demikian karena saat terpancar sinar matahari, warna air di permukaannya bisa tampak kuning, hijau, dan merah.
Warna-warni ini muncul karena pengaruh warna belerang yang ada di dasar danau. Menurut cerita turun-temurun dari orang-orang tua di wilayah itu, danau tersebut dulunya adalah kawah. Namun setelah proses alam selama ribuan tahun, akhirnya menjadi danau.
Di Manado Anda juga bisa menemukan patung Yesus yang menjadi landmark dan kebanggaan masyarakat setempat. Patung setinggi 50 meter ini dibangun di atas ketinggian 242 dpl Kota Manado, menghadap ke arah Pulau Manado Tua. Menariknya lagi, diperkirakan patung ini menjadi patung Yesus tertinggi di dunia kedua, setelah patung Jesus Christ The Redeemer di Corcovado Rio De Jainero.
Memanjakan Lidah
Kalau bicara masalah makanan, banyak orang bilang “Tidak Manado kalau tidak pedas,” karena memang hampir semua makanan khas Manado bercitarasa pedas. Bila Anda ingin memanjakan lidah, jangan lewatkan kunjungan ke kawasan Boulevard, yang saat malam hari disulap menjadi pusat kuliner kota. Dengan nuansa pantai dan hembusan angin laut, tempat makan yang berada di pinggiran pantai ini menawarkan berbagai macam kuliner baik tradisional maupun menu-menu chinese dan western food.
Jika ingin bersantap dengan suasana cozy sekaligus romantis, Anda bisa menjajal masakan ala Bumi Beringin di kawasan Sam Ratulangi. Restoran yang berada di atas bukit tersebut menyuguhkan panorama kecantikan Teluk Manado dengan keindahan pulau-pulau dan laut teluk Manado. Restoran ini berada di Jl. Sam Ratulangi.
Bila ingin berburu Bubur Manado atau disebut juga Bubur Tinutuan, wilayah jajanan tradisional ini terletak di Jl. Wakeke. Sepanjang jalan yang panjangnya kurang dari 1 km ini dijejali dengan warung Tinutuan yang buka mulai dari pukul 06.30-22.00 WITA.
Menu khas Manado lain yang unik, diantaranya: Mie Cakalang, yakni mie goreng istimewa yang disajikan dengan campuran ikan Cakalang. Ada juga Nike Goreng. Yang dimaksud di sini tentu saja bukan merek sepatu, melainkan nama jenis ikan kecil, yang hanya bisa di dapatkan di Danau Tondano. Bila dimakan selagi hangat, renyah dah gurihnya akan membuat lidah terlena. Untuk kudapan, yang favorit adalah Lalampa Manado. Sekilas jajanan ini mirip dengan lemper, tapi isinya adalah potongan daging ikan tongkol yang dimasak agak pedas dengan bumbu cabe, lada, jahe, serai, dan jeruk nipis.
Bila ingin berbagi kisah perjalanan Anda di Manado dalam sebentuk oleh-oleh, ada banyak makanan khas yang bisa mewakili, mulai dari Klapper Taart, Kacang Goyang, Kerupuk Ikan, Kacang Tore, Halua Kenari, Abon Ikan Cakalang, hingga Sirup Buah Pala. Anda bisa menemukan buah tangan tersebut di Pasar Tomohon atau banyak juga dijual di kawasan Merciful Building Business Center yang merupakan kompleks Ruko Wanea Plaza di Jl. Sam Ratulangi.
Read also


